#1
Menyair si Fulan, lewat jemari dan ingatan nan rindang.
#2
Tak terhitung berapa kepal udara yang kita hirup bersama, Fulan. Kadang
saya tercekik, hanya untuk melihatmu tidur tenang mendengkur.
#3
Sesekali cobalah menikmati saya mendengkur, Fulan. Yang melenguhkan harmoni intimasi, kala raga terpejam. Saat hatimu terjaga.
#4
Ruang dan waktu saya dan Fulan tak kerap sama. Pada lahannya kami
menanam miniatur semesta. Kami berganti peran sebagai tuhan. Duhai.
#5
Percuma menyembunyi senyuman. Semua menyindir saya tak waras. Mereka tak
tahu, kewarasan sering membelenggu kembara. Tanya saja si Fulan.
May 18, 2013
May 13, 2013
Syair Fulan Gerogoti Malam
#1
Mari menyair si Fulan. Sebelum penat menggerogoti malam.
#2
Coba kau tau, Fulan. Pagar rumah saya yang reot, untuk kesekian kalinya selamat dari badai. Reot yang tulus. Tandingannya hanya kesepian.
#3
Gesekan tungkai-tungkai belalang menyuarakan hampir habisnya kesabaran. Dan kau Fulan, meminta saya untuk tetap bertahan. Begitulah.
#4
Fulan yang bebal retna. Menggurui saya menata-olah laju reda medan rasa. Sungguh congkak. Congkak yang berkabut.
#5
Semalas lantun gamelan jawa, udara memuai gerah di ruang cakap saya. Saatnya membaca tanda, Fulan. Pada sore yang cerah tanpa amarah.
Mari menyair si Fulan. Sebelum penat menggerogoti malam.
#2
Coba kau tau, Fulan. Pagar rumah saya yang reot, untuk kesekian kalinya selamat dari badai. Reot yang tulus. Tandingannya hanya kesepian.
#3
Gesekan tungkai-tungkai belalang menyuarakan hampir habisnya kesabaran. Dan kau Fulan, meminta saya untuk tetap bertahan. Begitulah.
#4
Fulan yang bebal retna. Menggurui saya menata-olah laju reda medan rasa. Sungguh congkak. Congkak yang berkabut.
#5
Semalas lantun gamelan jawa, udara memuai gerah di ruang cakap saya. Saatnya membaca tanda, Fulan. Pada sore yang cerah tanpa amarah.
May 02, 2013
May 01, 2013
Fulan, Saya Terjebak Hujan
Ingin menyair si fulan. Sambil melamun di irama kejauhan hujan.
Duhai fulan, saya terjebak hujan. Juga terperangkap romantisme semu yang mendayu-dayu. Tolong selamatkan.
Duhai fulan, saya terjebak hujan. Juga terperangkap romantisme semu yang mendayu-dayu. Tolong selamatkan.
April 30, 2013
Menyair Fulan dalam Lelah
#1
Raganya lelah. Namun ingin menyair si fulan sepanjang malam.
#2
Kerling mata nan mendesir-desir. Menyibukkan si fulan dg banyak alasan. Duhai diri yang menarik ulur benang. Reaksi kimiawi tak tertahankan.
#3
Ada banyak sejarah menyelimuti saya dan si fulan. Tak pernah berujung pada romantisme bulan semata wayang. Jauh yang begitu dekat.
#4
Semakin malam, getar jantung masih berkejaran. Saya menyair si fulan, ketika ia sendiri menangguhkan banyak lamunan. Kata-kata terbenam.
#5
Matanya sudah ingin memejam. Melawan kaki tangan pikiran yang terpasung jaga. Baiklah fulan, kita simpan kelelahan ini berdua saja.
Raganya lelah. Namun ingin menyair si fulan sepanjang malam.
#2
Kerling mata nan mendesir-desir. Menyibukkan si fulan dg banyak alasan. Duhai diri yang menarik ulur benang. Reaksi kimiawi tak tertahankan.
#3
Ada banyak sejarah menyelimuti saya dan si fulan. Tak pernah berujung pada romantisme bulan semata wayang. Jauh yang begitu dekat.
#4
Semakin malam, getar jantung masih berkejaran. Saya menyair si fulan, ketika ia sendiri menangguhkan banyak lamunan. Kata-kata terbenam.
#5
Matanya sudah ingin memejam. Melawan kaki tangan pikiran yang terpasung jaga. Baiklah fulan, kita simpan kelelahan ini berdua saja.
April 26, 2013
Emosi Saya Nyaris Habis, Fulan
#1
Ingin menyair si fulan. Sebelum matahari membakar pikiran.
#2
Siklus hidup. Demikian si fulan memaknai lahir dan mati. Ada rasa yang lahir bersemi, ada yang terabaikan mati.
#3
Kita memelihara ego hingga lelah batas kesabaran. Saya menemani si fulan menyelami not-not balok kegetiran. Namun semua ada ujungnya.
#4
Bagai kendali roda aus dihajar jaman. Emosi kami terkikis. Nyaris habis. Sementara saya dan si fulan hanya bisa menepis gerimis.
#5
Duhai pagi yang ditinggalkan purnama semalam. Matamu tak lagi memangku hujan. Sampaikan pada si fulan, saya berpamitan.
Ingin menyair si fulan. Sebelum matahari membakar pikiran.
#2
Siklus hidup. Demikian si fulan memaknai lahir dan mati. Ada rasa yang lahir bersemi, ada yang terabaikan mati.
#3
Kita memelihara ego hingga lelah batas kesabaran. Saya menemani si fulan menyelami not-not balok kegetiran. Namun semua ada ujungnya.
#4
Bagai kendali roda aus dihajar jaman. Emosi kami terkikis. Nyaris habis. Sementara saya dan si fulan hanya bisa menepis gerimis.
#5
Duhai pagi yang ditinggalkan purnama semalam. Matamu tak lagi memangku hujan. Sampaikan pada si fulan, saya berpamitan.
April 24, 2013
Menyair Si Fulan Sebelum Tidur
#1
Beginilah perjanjian dengan syaitan ia buat. Syaitan yang baik memang. Sampai akhirnya si fulan tahu, hatinya keropos pelan-pelan.
#2
Akan tiba masanya dua perahu tercerai pulau. Si fulan memilih lelap berteman ombak di geladak. Ia tak lagi berulang upaya menambat kehendak.
#3
Pada dini hari nan riuh, rindu tak kunjung ditamatkan. Si fulan memunguti butirannya membeku darah. Saya asyik sekali menggali pusara baru.
#4
Fulan, bolehkah saya cabik kau punya keangkuhan? Satu lembarannya akan saya simpan. Duhai.
#5
Amboi. Sudah lama si fulan tak mencicip air asin jatuh ke pipi. Ingin sekali ia lakukan sedu sedan itu. Tanpa alasan.
#6
Mari menghapus kenangan hingga tertidur.
Beginilah perjanjian dengan syaitan ia buat. Syaitan yang baik memang. Sampai akhirnya si fulan tahu, hatinya keropos pelan-pelan.
#2
Akan tiba masanya dua perahu tercerai pulau. Si fulan memilih lelap berteman ombak di geladak. Ia tak lagi berulang upaya menambat kehendak.
#3
Pada dini hari nan riuh, rindu tak kunjung ditamatkan. Si fulan memunguti butirannya membeku darah. Saya asyik sekali menggali pusara baru.
#4
Fulan, bolehkah saya cabik kau punya keangkuhan? Satu lembarannya akan saya simpan. Duhai.
#5
Amboi. Sudah lama si fulan tak mencicip air asin jatuh ke pipi. Ingin sekali ia lakukan sedu sedan itu. Tanpa alasan.
#6
Mari menghapus kenangan hingga tertidur.
Subscribe to:
Posts (Atom)