Mengenang Mahameru, 1992.
Bergelantung di jip
sayuran beroda rantai besi,
menuju kaki Semeru Ranu Pani.
Mencebur
keindahan ingatan di hening sakral Ranu Kumbolo.
Menyusur padang rumput
berkabut, oro-oro ombo.
Mengelabui malaikat maut Soe Hok Gie, si wedhus
gembel.
Menggapai puncak Mahameru,
perjalanan terakhir bersama sahabat
kami,
alm. Heri Samo Hung.
Rest in peace, buddy.
Showing posts with label Episode. Show all posts
Showing posts with label Episode. Show all posts
October 13, 2012
March 19, 2011
selamat ulang tahun, kekasih
kelahiranmu menggantikan kematiannya. selamat merayakan kehidupan dan menghargai ketiadaan.
March 13, 2011
home alone
home alone, masih menikmati sensasi triple f: flu, fever and friction; sambil mencoba tak berjarak dengan rasa sakit. ah, betapa inginnya dihibur oleh sup hangat, kopi hitam dan gelak tawa.
February 27, 2011
bday wish
tuhan, andai kau tak sibuk, tolong sampaikan rindu & terima kasihku pada dua manusia pilihanmu; perempuan hebat yang 36 tahun silam meregang nyawanya untuk mengeluarkanku dari rahimnya, dan pada lelaki sabar yang mendampinginya untuk mengenalkanku pertama kali pada hiruk pikuk dunia.
February 15, 2011
rindu muhammad
maulid nabi muhammad: rindu perayaan tradisional di kampung halaman. memaknainya dengan sangat sederhana lewat sukaria pasar malam, mainan anak dan makan brondong jagung berbentuk mobil-mobilan.
February 14, 2011
santi & icha
ibu dan anak perempuan saling berpelukan. mengais mimpi berdua, menantang hidup, menangis dan bertahan. jika sang lelaki tak bernyali hanya bisa meninggalkan. sudah, tak perlu lagi kalian harapkan. memandangi mereka ~sungguh~ adalah sumber kekuatan.
November 15, 2010
senyumnya di bibirku
ia akan selalu tersenyum. apa pun gundah yg ditemuinya.
sulit memang. tapi ia selalu mendapat alasan; mengapa ia harus tersenyum.
hanya itu yang ia tinggalkan sebelum pergi.
melampaui gemerlap warisan berhektar tanah dan berpundi harta.
hari ini, senyum yang sama kulayangkan.
karena sekali lagi berkesempatan; menyelami kesukaran.
menelusuri pengetahuan serta kearifan di dalamnya.
terbayang wajah ayah di situ. kami bertatapan.
kedua pasang bibir bergerak sama: tersenyum selepasnya.
::dalam kenangan: ayahanda KY dan momen kesendirian di hotel transit Makassar
sulit memang. tapi ia selalu mendapat alasan; mengapa ia harus tersenyum.
hanya itu yang ia tinggalkan sebelum pergi.
melampaui gemerlap warisan berhektar tanah dan berpundi harta.
hari ini, senyum yang sama kulayangkan.
karena sekali lagi berkesempatan; menyelami kesukaran.
menelusuri pengetahuan serta kearifan di dalamnya.
terbayang wajah ayah di situ. kami bertatapan.
kedua pasang bibir bergerak sama: tersenyum selepasnya.
::dalam kenangan: ayahanda KY dan momen kesendirian di hotel transit Makassar
November 08, 2010
friendship
yang telah dibangun, dipupuk dan dikuatkan oleh rasa sayang, percaya dan toleransi selama belasan tahun, tidak semestinya menumbuhkan kesakitan yang laten karena satu sama lain enggan berdialog dengan kepala dan hati dingin.
September 03, 2010
tanya tak berjawab
Ada saja yang berkelindan di kerajaan rasa, menjelang sapta warsa.
Kata-kata manis, pelukan sayang dan kecupan lembut
Berwujud menjadi kosong makna.
Bukan. Bukan lalu saya merajuk. Bukan juga saya mengamuk.
Hanya kehilangan energi hangat, yang melemaskan cakar-cakar penasaran.
Tanya tak berjawab. Sedih tak bermuara. Pasang surut lanjut berpindah peran.
Kemarin, kemenangan menopang seluruh nestapa.
Kali lain, kini, kekosongan meruah di belantara kata.
Tahan, tahan.
Jangan sampai menetes lagi.
Air asin itu semoga enggan menyapa pedih yang disisakan.
Andai hujan semalam gagal meneduhkan bara lava.
Mungkin memang bulir beningnya hadir untuk pergi membawa luka.
Juga tanya yang tak berjawab.
*i do hate Manchester United (MU) so much!* T_T
Kata-kata manis, pelukan sayang dan kecupan lembut
Berwujud menjadi kosong makna.
Bukan. Bukan lalu saya merajuk. Bukan juga saya mengamuk.
Hanya kehilangan energi hangat, yang melemaskan cakar-cakar penasaran.
Tanya tak berjawab. Sedih tak bermuara. Pasang surut lanjut berpindah peran.
Kemarin, kemenangan menopang seluruh nestapa.
Kali lain, kini, kekosongan meruah di belantara kata.
Tahan, tahan.
Jangan sampai menetes lagi.
Air asin itu semoga enggan menyapa pedih yang disisakan.
Andai hujan semalam gagal meneduhkan bara lava.
Mungkin memang bulir beningnya hadir untuk pergi membawa luka.
Juga tanya yang tak berjawab.
*i do hate Manchester United (MU) so much!* T_T
June 08, 2010
syair pagi maulida
pada pipi tembam humaira itu,
hangat bibir terkulai tak berdaya
pada gumpalan kapas putih di dada kecil itu,
gelora murka acapkali mengoyaknya
malaikat mungil di peraduan,
bukalah perlahan pejam matamu
biar kubisikkan: sayang dan maaf...
:: six years old and marvellous. that's what u are, baby.. happy bday!
hangat bibir terkulai tak berdaya
pada gumpalan kapas putih di dada kecil itu,
gelora murka acapkali mengoyaknya
malaikat mungil di peraduan,
bukalah perlahan pejam matamu
biar kubisikkan: sayang dan maaf...
:: six years old and marvellous. that's what u are, baby.. happy bday!
June 02, 2010
selasar jiwa (ode buat sahabat yang berduka : aisyah)
ada banyak cara mereda kedukaan.
namun begitu berjaraknya waktu menyembuhkannya.
bahkan ketika rona pucuk hijau bermunculan di ranting-ranting pohon.
juga kerling bening embun menetesi selasar urat nadi.
aku termangu menyapu setiap ruas wajah kerasmu.
sisa luka perih itu bukan kemauanmu.
kamu hanya terlalu angkuh untuk membiarkan rintik hujan
menghapus maskara kelam di lingkar mata tajam itu.
berhentilah barang semalam purnama.
bersandarlah di lorong-lorong jiwa,
yang tersedia di setiap sudut langkah.
namun jangan pernah berharap,
malam ini takkan beranjak fajar.
kulirik tungkai dan seluruh persendianku. masih sekokoh dulu.
saat terakhir kali rebah tubuh itu mendekap kemarau jasadku.
ah, bahkan aku yang setegar inipun,
masih saja mengernyit dan berlinang dalam ingatan.
sewaktu para penebang liar itu, menguliti selasar jiwaku.
kukepakkan kembali sayap rimbun dedaunanku.
sini, kemari duhai anak manusia.
selonjorkan kakimu, dan benamkan pedihmu perlahan di akar hidupku.
mari saling bertukar kisah.
biar lobang hitam itu lenyap musnah.
karena akulah sang pohon.
sang selasar jiwa.
berkelana menyimpan rindu dendam.
namun begitu berjaraknya waktu menyembuhkannya.
bahkan ketika rona pucuk hijau bermunculan di ranting-ranting pohon.
juga kerling bening embun menetesi selasar urat nadi.
aku termangu menyapu setiap ruas wajah kerasmu.
sisa luka perih itu bukan kemauanmu.
kamu hanya terlalu angkuh untuk membiarkan rintik hujan
menghapus maskara kelam di lingkar mata tajam itu.
berhentilah barang semalam purnama.
bersandarlah di lorong-lorong jiwa,
yang tersedia di setiap sudut langkah.
namun jangan pernah berharap,
malam ini takkan beranjak fajar.
kulirik tungkai dan seluruh persendianku. masih sekokoh dulu.
saat terakhir kali rebah tubuh itu mendekap kemarau jasadku.
ah, bahkan aku yang setegar inipun,
masih saja mengernyit dan berlinang dalam ingatan.
sewaktu para penebang liar itu, menguliti selasar jiwaku.
kukepakkan kembali sayap rimbun dedaunanku.
sini, kemari duhai anak manusia.
selonjorkan kakimu, dan benamkan pedihmu perlahan di akar hidupku.
mari saling bertukar kisah.
biar lobang hitam itu lenyap musnah.
karena akulah sang pohon.
sang selasar jiwa.
berkelana menyimpan rindu dendam.
February 07, 2010
jealous
after all these times...i feel it again : jealous.
Damn! Jealous is one of the feelings i hate most. Karena cemburu, maka kejernihan otak saya menjadi drastis berkurang. Karena cemburu, tingkat insting kecurigaan saya makin gencar menguasai setiap perilaku. Karena cemburu, saya bisa berubah menjadi orang yang sangat intimidatif, dingin, penuh pertanyaan atau malah...justru amat sangat pendiam.
Merasakan cemburu setelah sekian waktu lamanya terputus koneksi dan berjarak dengannya, ternyata sangat merepotkan dan saya benci karenanya! Jadi atas nama kekecewaan dan kemarahan karena kembali terhubung dengan rasa bernama JEALOUS, saya memohon kepadamu duhai emosi yang bercokol di dada dan pikiran: enyahlah! Dan biarkan saya berjarak dan terputus lagi darimu. Kembalikan diri saya yang merdeka dan tak terbelenggu.
Damn! Jealous is one of the feelings i hate most. Karena cemburu, maka kejernihan otak saya menjadi drastis berkurang. Karena cemburu, tingkat insting kecurigaan saya makin gencar menguasai setiap perilaku. Karena cemburu, saya bisa berubah menjadi orang yang sangat intimidatif, dingin, penuh pertanyaan atau malah...justru amat sangat pendiam.
Merasakan cemburu setelah sekian waktu lamanya terputus koneksi dan berjarak dengannya, ternyata sangat merepotkan dan saya benci karenanya! Jadi atas nama kekecewaan dan kemarahan karena kembali terhubung dengan rasa bernama JEALOUS, saya memohon kepadamu duhai emosi yang bercokol di dada dan pikiran: enyahlah! Dan biarkan saya berjarak dan terputus lagi darimu. Kembalikan diri saya yang merdeka dan tak terbelenggu.
October 06, 2009
membungkus rapat keangkuhan
Tadi malam, karena satu dua pekerjaan yang masih menumpuk dengan tenggat waktu pagi ini, saya memutuskan untuk berdiam lebih lama di kantor dan menyelesaikannya. Penat...? Tentu saja. Apalagi sejak siang harinya ketidakkonsentrasian acapkali menyita sisi produktivitas saya dan membuat saya jadi bahan tertawaan seorang rekan kerja akibat insiden kelinglungan yang murni tidak dibuat-buat. :D
Tanpa disadari, waktu terus bergulir merambahi malam. Rekan-rekan kerja yang sebelumnya masih asyik di depan PC mereka, satu persatu berpamitan meninggalkan bangunan kantor kami. Sementara, saya masih bertahan di kursi kerja saya menyelesaikan sisa pekerjaan sambil sesekali membuka akun facebook dan chatting dengan beberapa teman di dunia cyber. Beruntung sekali jarak antara rumah saya dengan kantor tidak terlalu jauh, sehingga dalam hitungan matematis waktu yang sederhana, pulang tengah malam pun masih bisa dikelola oleh nalar.
Saya melirik penunjuk waktu di lengan kanan. Beberapa detik lewat dari jam 21.57. Hutang sudah dilunasi. Waktunya berkemas dan pulang. Tepat jam 22.00 saya berpamitan kepada Pak Satpam di lantai 1, lalu melenggang pelan menuju gerbang depan. Pelataran parkir sepi. Tak ada seorang manusia pun di sana. Saya terus berjalan, sambil menimbang-nimbang akan memanggil ojek, bajaj atau taksi untuk sampai ke rumah? Ada sedikit perasaan gamang dan cemas ketika melihat di jalanan depan kantor tak ada satu pun angkutan umum yang saya bayangkan tadi… Mau tidak mau, saya harus berjalan dulu beberapa puluh meter untuk sampai di perempatan jalan yang lebih ramai supaya tidak terlunta-lunta seperti ini. Terhibur oleh sejuknya angin malam yang menerpa pipi, saya pun melangkahkan kaki perlahan.
Di kejauhan dan kegelapan, terlihat kerumunan laki-laki dengan riuh rendah suara canda tawa mereka. Saya menebak mereka adalah kumpulan para pedagang asongan dan sopir bajaj yang sedang mengaso atau hanya beberapa pemuda yang sedang kongkow menghabiskan malam. Berjalan agak cepat ketika hampir mendekati kerumunan, sekilas terekam wajah-wajah garang dan seringai jahil mereka. Naluri survival sekonyong-konyong menyelimuti pikiran saya. Saat itu juga saya menyesal kenapa dulu pada saat remaja tidak sempat menuntaskan latihan bela diri hanya gara-gara kemalasan berolah fisik. Pikiran saya lainnya sibuk mereka-reka dan berencana, jika para lelaki itu berani menyentuh dan mengganggu saya, sepertinya.. ide menghantamkan tas ransel yang berat dan melekat di punggung saya ini ke kepala mereka akan lumayan ampuh mengalihkan perhatian dan saya akan punya kesempatan untuk menendang mereka keras-keras atau malah melarikan diri secepat-cepatnya. Dengan mantap saya kuatkan hati dan terus melangkah cepat. Ketika beberapa lelaki itu beranjak dari posisi jongkoknya, saya tertegun sejenak karena terhalangi oleh tubuh besar mereka. God, please help me… Di saat saya sibuk menenangkan degup jantung yang begitu keras berloncatan, tiba-tiba tubuh ini terhentak akibat sepasang tangan yang menarik saya ke arah trotoar sepi di tepi jalan. Ada suara makian bersahutan dan deruan keras lainnya yang saya dengar bersamaan dengan naiknya rasa mual di perut saya. Kepanikan mulai menyergap, saya berusaha sekuat tenaga membenahi posisi tubuh yang agak oleng dan secepat kilat memasang benteng pertahanan ala kadarnya. Lagi-lagi saya menyesal, kenapa belum sempat membeli alat penyemprot berisi cairan sepanas cabe untuk mengantisipasi situasi seperti ini ya? Uuughhh…terlambat sudah! Rasanya ingin menangis karena ketakutan…, tapi logika saya berkata: tidak ada waktu untuk menangis saat ini! Sampai akhirnya seseorang bertubuh besar diantara mereka serta merta menyodorkan tangan ke arah saya dan berkata, “Mari saya bantu Mbak… Maaf ya, tadi saya tarik terlalu keras. Tapi kalau nggak begitu, pasti Mbak udah ketabrak mobil kijang yang ngebut tadi…”
Haah? Mobil…? Mobil yang mana…? Dipenuhi kebingungan yang samar-samar berangsur surut, saya menerima uluran tangannya dan kembali berdiri tegak. Nyaris berbisik saya ucapkan terima kasih kepadanya. Dari penjelasan mereka, saya jadi mengerti bahwa beberapa saat yang lalu sebuah mobil kijang yang melaju kencang nyaris menabrak saya yang tanpa sadar berjalan agak ke arah tengah badan jalan hanya gara-gara ketakutan dan kecurigaan kepada mereka. Rasa malu dan bersalah yang amat sangat mendera ruang batin ini. Sepintas saya pandangi satu persatu wajah para lelaki itu yang asyik bercerita dengan tawa tak lepas dari bibir mereka. Wajah-wajah garang dan keras penuh keletihan berpadu dengan keramahan dan kesederhanaan orang kebanyakan. Wajah-wajah yang terabaikan dan ternegasikan oleh imajinasi dan prasangka saya. Kalau saja saya mau sedikit berbaik sangka dan menciutkan keangkuhan diri dalam membentuk opini-opini instan… Ah, betapa kecilnya kemampuan saya mengelola ego ini dengan proporsional. Setelah berpamitan dan berterima kasih kedua kalinya, saya pun meneruskan langkah dengan masygul.
Ada bermenit-menit lamanya saya menanti ojek, bajaj atau taksi yang bisa membawa saya pulang. Malam yang nyaris sepi seolah memberi kesempatan pada diri ini untuk menekuri insiden singkat tadi. Membongkar semua simpul-simpul keangkuhan yang disadari atau tidak seringkali saya kenakan untuk mengemas kelemahan dalam menempatkan suatu penilaian. Memporakporandakan keangkuhan yang senantiasa mengklaim diri ini sebagai pribadi yang lebih baik, bermoral dan superior dibanding yang lainnya.
Akhirnya, saya pun memanggil ojek motor yang lewat. Dan sepanjang perjalanan pulang, saya terbawa aliran obrolan ringan si Abang ojek tentang hujan yang baru saja turun di belahan Jakarta yang lain, kelengangan jalan di waktu malam serta mimpi-mimpi seorang tukang ojek untuk pulang kampung setelah bertahun-tahun tak bersua anak istrinya. Malam semakin merapat, angin sejuk kian menepis wajah. Saya pun semakin membungkus tubuh dengan lipatan tangan erat-erat seiring upaya susah payah saya membungkus bongkahan-bongkahan kesombongan yang tercecer di sudut perempatan jalan tadi.
Saat menuliskan ini, sebetulnya saya juga sedang berusaha sekali lagi membungkus kesombongan diri dan membuat sekelumit pengakuan. Semalam saya berseloroh dan mencandai seorang teman baik dengan nada angkuh, saya bilang “berterima kasihlah padaku, karena aku telah memberimu topik yang membangkitkan gairah dan inspirasi menulismu”. Hahaha, tentu saja langsung disambut jawabannya, “Ih, ge-er!”. Andaikan dia tahu, justru karena dia mulai menulis lagi, hal itulah yang membangkitkan gairah saya untuk menuangkan insiden singkat tadi malam ke dalam tulisan ini. Thanks to you, Bro… :)
Tanpa disadari, waktu terus bergulir merambahi malam. Rekan-rekan kerja yang sebelumnya masih asyik di depan PC mereka, satu persatu berpamitan meninggalkan bangunan kantor kami. Sementara, saya masih bertahan di kursi kerja saya menyelesaikan sisa pekerjaan sambil sesekali membuka akun facebook dan chatting dengan beberapa teman di dunia cyber. Beruntung sekali jarak antara rumah saya dengan kantor tidak terlalu jauh, sehingga dalam hitungan matematis waktu yang sederhana, pulang tengah malam pun masih bisa dikelola oleh nalar.
Saya melirik penunjuk waktu di lengan kanan. Beberapa detik lewat dari jam 21.57. Hutang sudah dilunasi. Waktunya berkemas dan pulang. Tepat jam 22.00 saya berpamitan kepada Pak Satpam di lantai 1, lalu melenggang pelan menuju gerbang depan. Pelataran parkir sepi. Tak ada seorang manusia pun di sana. Saya terus berjalan, sambil menimbang-nimbang akan memanggil ojek, bajaj atau taksi untuk sampai ke rumah? Ada sedikit perasaan gamang dan cemas ketika melihat di jalanan depan kantor tak ada satu pun angkutan umum yang saya bayangkan tadi… Mau tidak mau, saya harus berjalan dulu beberapa puluh meter untuk sampai di perempatan jalan yang lebih ramai supaya tidak terlunta-lunta seperti ini. Terhibur oleh sejuknya angin malam yang menerpa pipi, saya pun melangkahkan kaki perlahan.
Di kejauhan dan kegelapan, terlihat kerumunan laki-laki dengan riuh rendah suara canda tawa mereka. Saya menebak mereka adalah kumpulan para pedagang asongan dan sopir bajaj yang sedang mengaso atau hanya beberapa pemuda yang sedang kongkow menghabiskan malam. Berjalan agak cepat ketika hampir mendekati kerumunan, sekilas terekam wajah-wajah garang dan seringai jahil mereka. Naluri survival sekonyong-konyong menyelimuti pikiran saya. Saat itu juga saya menyesal kenapa dulu pada saat remaja tidak sempat menuntaskan latihan bela diri hanya gara-gara kemalasan berolah fisik. Pikiran saya lainnya sibuk mereka-reka dan berencana, jika para lelaki itu berani menyentuh dan mengganggu saya, sepertinya.. ide menghantamkan tas ransel yang berat dan melekat di punggung saya ini ke kepala mereka akan lumayan ampuh mengalihkan perhatian dan saya akan punya kesempatan untuk menendang mereka keras-keras atau malah melarikan diri secepat-cepatnya. Dengan mantap saya kuatkan hati dan terus melangkah cepat. Ketika beberapa lelaki itu beranjak dari posisi jongkoknya, saya tertegun sejenak karena terhalangi oleh tubuh besar mereka. God, please help me… Di saat saya sibuk menenangkan degup jantung yang begitu keras berloncatan, tiba-tiba tubuh ini terhentak akibat sepasang tangan yang menarik saya ke arah trotoar sepi di tepi jalan. Ada suara makian bersahutan dan deruan keras lainnya yang saya dengar bersamaan dengan naiknya rasa mual di perut saya. Kepanikan mulai menyergap, saya berusaha sekuat tenaga membenahi posisi tubuh yang agak oleng dan secepat kilat memasang benteng pertahanan ala kadarnya. Lagi-lagi saya menyesal, kenapa belum sempat membeli alat penyemprot berisi cairan sepanas cabe untuk mengantisipasi situasi seperti ini ya? Uuughhh…terlambat sudah! Rasanya ingin menangis karena ketakutan…, tapi logika saya berkata: tidak ada waktu untuk menangis saat ini! Sampai akhirnya seseorang bertubuh besar diantara mereka serta merta menyodorkan tangan ke arah saya dan berkata, “Mari saya bantu Mbak… Maaf ya, tadi saya tarik terlalu keras. Tapi kalau nggak begitu, pasti Mbak udah ketabrak mobil kijang yang ngebut tadi…”
Haah? Mobil…? Mobil yang mana…? Dipenuhi kebingungan yang samar-samar berangsur surut, saya menerima uluran tangannya dan kembali berdiri tegak. Nyaris berbisik saya ucapkan terima kasih kepadanya. Dari penjelasan mereka, saya jadi mengerti bahwa beberapa saat yang lalu sebuah mobil kijang yang melaju kencang nyaris menabrak saya yang tanpa sadar berjalan agak ke arah tengah badan jalan hanya gara-gara ketakutan dan kecurigaan kepada mereka. Rasa malu dan bersalah yang amat sangat mendera ruang batin ini. Sepintas saya pandangi satu persatu wajah para lelaki itu yang asyik bercerita dengan tawa tak lepas dari bibir mereka. Wajah-wajah garang dan keras penuh keletihan berpadu dengan keramahan dan kesederhanaan orang kebanyakan. Wajah-wajah yang terabaikan dan ternegasikan oleh imajinasi dan prasangka saya. Kalau saja saya mau sedikit berbaik sangka dan menciutkan keangkuhan diri dalam membentuk opini-opini instan… Ah, betapa kecilnya kemampuan saya mengelola ego ini dengan proporsional. Setelah berpamitan dan berterima kasih kedua kalinya, saya pun meneruskan langkah dengan masygul.
Ada bermenit-menit lamanya saya menanti ojek, bajaj atau taksi yang bisa membawa saya pulang. Malam yang nyaris sepi seolah memberi kesempatan pada diri ini untuk menekuri insiden singkat tadi. Membongkar semua simpul-simpul keangkuhan yang disadari atau tidak seringkali saya kenakan untuk mengemas kelemahan dalam menempatkan suatu penilaian. Memporakporandakan keangkuhan yang senantiasa mengklaim diri ini sebagai pribadi yang lebih baik, bermoral dan superior dibanding yang lainnya.
Akhirnya, saya pun memanggil ojek motor yang lewat. Dan sepanjang perjalanan pulang, saya terbawa aliran obrolan ringan si Abang ojek tentang hujan yang baru saja turun di belahan Jakarta yang lain, kelengangan jalan di waktu malam serta mimpi-mimpi seorang tukang ojek untuk pulang kampung setelah bertahun-tahun tak bersua anak istrinya. Malam semakin merapat, angin sejuk kian menepis wajah. Saya pun semakin membungkus tubuh dengan lipatan tangan erat-erat seiring upaya susah payah saya membungkus bongkahan-bongkahan kesombongan yang tercecer di sudut perempatan jalan tadi.
Saat menuliskan ini, sebetulnya saya juga sedang berusaha sekali lagi membungkus kesombongan diri dan membuat sekelumit pengakuan. Semalam saya berseloroh dan mencandai seorang teman baik dengan nada angkuh, saya bilang “berterima kasihlah padaku, karena aku telah memberimu topik yang membangkitkan gairah dan inspirasi menulismu”. Hahaha, tentu saja langsung disambut jawabannya, “Ih, ge-er!”. Andaikan dia tahu, justru karena dia mulai menulis lagi, hal itulah yang membangkitkan gairah saya untuk menuangkan insiden singkat tadi malam ke dalam tulisan ini. Thanks to you, Bro… :)
January 23, 2009
Lucky Me
Berhari-hari belakangan ini perasaan saya enteng sekali. Sungguh luar biasa menyenangkan! Di rumah menyenangkan, di kantor tak jauh beda dan di lingkungan serta komunitas lainnya pun tidak terlalu menyebalkan. Karunia hidup yang amat membahagiakan.
Saya berdamai dengan beberapa orang di sekitar kehidupan saya. Berdamai dengan segala kekurangan dan kelebihan mereka dan terutama pada diri saya sendiri. Memaklumi dan memanusiawikan kerikil-kerikil kasar di perjalanan interaksi sosial saya. Sulit memang. Tapi tidak sesulit yang saya bayangkan, ternyata.
Saya merasa menjadi pemenang, dan itu yang lebih membangkitkan perasaan sumringah. Saya yang akan memimpin setiap otoritas-otoritas yang berkerumun di antara kaki-kaki kecil saya!
Saya mulai membuka komunikasi baru dengan individu-individu lain di tempat saya bekerja. Saya tidak lagi mengernyitkan kening ketika bos menegur dan berseloroh tentang keruwetan di kantor, saya senang karena punya teman kantor lelaki yang hobi nulis juga di blog-nya, saya menemukan teman-teman lama yang semula berceceran di antah-berantah, saya bercanda sayang dengan pelipur lara saya, saya memaafkan ketidaksensitifan seorang teman terhadap sebuah elegi hati dan kehidupan, saya juga terus merajut rindu dengan sahabat-sahabat perempuan setia saya, saya sedang gandrung dengan lagu-lagunya Jason Mraz, saya sedang asyik dengan hobi saya menulis di blog ini, so on...and so on.
Jadi, siapa bilang hidup ini tidak indah? Not me, dear...
Saya berdamai dengan beberapa orang di sekitar kehidupan saya. Berdamai dengan segala kekurangan dan kelebihan mereka dan terutama pada diri saya sendiri. Memaklumi dan memanusiawikan kerikil-kerikil kasar di perjalanan interaksi sosial saya. Sulit memang. Tapi tidak sesulit yang saya bayangkan, ternyata.
Saya merasa menjadi pemenang, dan itu yang lebih membangkitkan perasaan sumringah. Saya yang akan memimpin setiap otoritas-otoritas yang berkerumun di antara kaki-kaki kecil saya!
Saya mulai membuka komunikasi baru dengan individu-individu lain di tempat saya bekerja. Saya tidak lagi mengernyitkan kening ketika bos menegur dan berseloroh tentang keruwetan di kantor, saya senang karena punya teman kantor lelaki yang hobi nulis juga di blog-nya, saya menemukan teman-teman lama yang semula berceceran di antah-berantah, saya bercanda sayang dengan pelipur lara saya, saya memaafkan ketidaksensitifan seorang teman terhadap sebuah elegi hati dan kehidupan, saya juga terus merajut rindu dengan sahabat-sahabat perempuan setia saya, saya sedang gandrung dengan lagu-lagunya Jason Mraz, saya sedang asyik dengan hobi saya menulis di blog ini, so on...and so on.
Jadi, siapa bilang hidup ini tidak indah? Not me, dear...
December 23, 2008
2 months traveling resume
Udah lama banget saya ga pernah nulis di sini lagi ya? hampir 2 bulan kayanya. Kangen juga. Kangen untuk menekan-nekan tuts keyboard dan merangkai apa yang ada dalam pikiran, hati dan memori saya ke dalam sebuah tulisan.
Dua bulan sebetulnya bukan waktu yang lama. Namun, tampaknya traveling saya lumayan padat dipenuhi aktivitas kantor baru, beradaptasi dengan manusia-manusia di sana dan mencoba menempatkan diri dengan sebaik-baiknya sehingga semua bisa menerima saya dengan perspektif yang positif.
Terlalu banyak yang bisa dituangkan, sementara begitu terbatas kemampuan saya mengukirkannya ke dalam blog "catatan perjalanan sunyi" ini. Yang jelas bertemu orang-orang baru memang selalu menjadi perjalanan yang menarik dan penuh tantangan. Apalagi dengan nuansa kantor yang amat jauh berbeda dengan sebelumnya. Begitu banyak manusia perempuan di sini, dengan segala karakter, kelebihan dan kekurangannya. Ada begitu banyak idealisme yang bermunculan, baik itu yang orisinil, tulus maupun yang tampak hanya di permukaan. Menarik. Kadang sih melelahkan berurusan dengan mereka, tapi selebihnya, saya jalanin aja dengan tanpa beban.
Satu lagi, seminggu yang lalu saya bertemu teman lama jaman SMP melalui salah satu jejaring sosial di internet. Saya bilang, dia itu layaknya barang lama dengan casing baru. Hahaha! Honestly, saya tidak pernah benar-benar mengenal dia secara pribadi. Dan itu memang yang sebenarnya. Tapi atas nama nostalgia dan persahabatan, jadilah kita bertukar informasi tentang pekerjaan, kehidupan dan masa lalu. Banyak hal baru yang saya dapatkan dari dia, selain dia juga suka sekali ngeledekin saya! No hard feeling :) Sama banyaknya dengan apa yang saya dapatkan dengan selalu menjaga hubungan baik dengan semua orang.
Jadi, catatan perjalanan selama 2 bulan ini saya tutup dengan satu lamunan bahwa interaksi dengan banyak orang mau tak mau harus selalu dijaga dengan baik. Saya belajar banyak, kadang saya harus mengambil sedikit langkah ke belakang agar ada ruang buat semua pihak untuk melihat sejauh mana pijakan atau pun hentakan yang musti diambil. Atau malah hanya sekedar memberi ruang yang cukup buat yang lain agar apa yang ada di benak mereka bisa diterima dengan lapang dada dan bijak tanpa harus ada pemaksaan dan rasa luka. Perbedaan memang selalu menimbulkan "kegerahan". Namun mudah-mudahan itu bisa selalu mewarnai perjalanan saya dari yang semula hanya hitam dan putih, menjadi lebih marak dengan nuansa kelabu, merah, jingga, biru maupun ungu.
Hari ini, pukul 20.00 WIB, di sudut kecil kantor saya di jalan Latuharhari, saya beranjak pulang ke rumah untuk menyambut sejuta liku-liku perjalanan hidup di depan sana. Berinteraksi lagi dengan banyak manusia dan sejumput persoalan hidup.
Dua bulan sebetulnya bukan waktu yang lama. Namun, tampaknya traveling saya lumayan padat dipenuhi aktivitas kantor baru, beradaptasi dengan manusia-manusia di sana dan mencoba menempatkan diri dengan sebaik-baiknya sehingga semua bisa menerima saya dengan perspektif yang positif.
Terlalu banyak yang bisa dituangkan, sementara begitu terbatas kemampuan saya mengukirkannya ke dalam blog "catatan perjalanan sunyi" ini. Yang jelas bertemu orang-orang baru memang selalu menjadi perjalanan yang menarik dan penuh tantangan. Apalagi dengan nuansa kantor yang amat jauh berbeda dengan sebelumnya. Begitu banyak manusia perempuan di sini, dengan segala karakter, kelebihan dan kekurangannya. Ada begitu banyak idealisme yang bermunculan, baik itu yang orisinil, tulus maupun yang tampak hanya di permukaan. Menarik. Kadang sih melelahkan berurusan dengan mereka, tapi selebihnya, saya jalanin aja dengan tanpa beban.
Satu lagi, seminggu yang lalu saya bertemu teman lama jaman SMP melalui salah satu jejaring sosial di internet. Saya bilang, dia itu layaknya barang lama dengan casing baru. Hahaha! Honestly, saya tidak pernah benar-benar mengenal dia secara pribadi. Dan itu memang yang sebenarnya. Tapi atas nama nostalgia dan persahabatan, jadilah kita bertukar informasi tentang pekerjaan, kehidupan dan masa lalu. Banyak hal baru yang saya dapatkan dari dia, selain dia juga suka sekali ngeledekin saya! No hard feeling :) Sama banyaknya dengan apa yang saya dapatkan dengan selalu menjaga hubungan baik dengan semua orang.
Jadi, catatan perjalanan selama 2 bulan ini saya tutup dengan satu lamunan bahwa interaksi dengan banyak orang mau tak mau harus selalu dijaga dengan baik. Saya belajar banyak, kadang saya harus mengambil sedikit langkah ke belakang agar ada ruang buat semua pihak untuk melihat sejauh mana pijakan atau pun hentakan yang musti diambil. Atau malah hanya sekedar memberi ruang yang cukup buat yang lain agar apa yang ada di benak mereka bisa diterima dengan lapang dada dan bijak tanpa harus ada pemaksaan dan rasa luka. Perbedaan memang selalu menimbulkan "kegerahan". Namun mudah-mudahan itu bisa selalu mewarnai perjalanan saya dari yang semula hanya hitam dan putih, menjadi lebih marak dengan nuansa kelabu, merah, jingga, biru maupun ungu.
Hari ini, pukul 20.00 WIB, di sudut kecil kantor saya di jalan Latuharhari, saya beranjak pulang ke rumah untuk menyambut sejuta liku-liku perjalanan hidup di depan sana. Berinteraksi lagi dengan banyak manusia dan sejumput persoalan hidup.
October 10, 2008
another new journey
Tadi pagi saya datang untuk mengikuti wawancara pekerjaan di salah satu lembaga negara independen yang berfokus pada kerja-kerja advokasi penegakan HAM perempuan (terutama perempuan korban kekerasan). Syukurlah, wawancara berjalan lancar-lancar saja. Dan saya pun diterima bekerja di sana. Kalau tak ada perubahan saya mulai bekerja aktif akhir bulan ini.
Beruntung, pihak manajemen perusahaan tempat saya bekerja sekarang bisa memaklumi alasan pengunduran diri yang saya ajukan siang tadi secara lisan. Namun memang ada beberapa tanggung jawab yang harus saya selesaikan sebelum akhirnya nanti saya pergi. Not a big deal.
Sedikit merenung setelah setor wajah sama Tuhan, saya pun bermonolog. Satu perjalanan baru lagi akan saya tempuh. Semoga apapun itu, membawa kebaikan bagi diri saya dan banyak orang.
Beruntung, pihak manajemen perusahaan tempat saya bekerja sekarang bisa memaklumi alasan pengunduran diri yang saya ajukan siang tadi secara lisan. Namun memang ada beberapa tanggung jawab yang harus saya selesaikan sebelum akhirnya nanti saya pergi. Not a big deal.
Sedikit merenung setelah setor wajah sama Tuhan, saya pun bermonolog. Satu perjalanan baru lagi akan saya tempuh. Semoga apapun itu, membawa kebaikan bagi diri saya dan banyak orang.
September 26, 2008
my falling leaves
Hari ini, pukul 17.50 WIB. Sampai dengan detik ini saya masih bulukan di kantor. Sepi. Most of us udah pada ngacir dan mudik ke kampung masing-masing. Sejak siang tadi awan kelabu, lalu tetesan hujan mulai luruh dan meresap ke tanah kering Jakarta. Romantis. Harum tanah berbaur lebatnya hujan, selalu membuat saya merasa damai. Tinggal saya dan segelintir orang di kantor ini yang masih (mau) jaga kandang, mengejar setumpuk hutang pekerjaan yang (maunya) segera dituntaskan sebelum hari Jum'at ini meredup. Suasana menjelang lebaran Idul Fitri di Jakarta selalu terasa seperti ini. Sunyi memang, namun kesunyian ini meninggalkan sejuta makna dan eksotismenya tersendiri. Tssaahh!
Pagi tadi saya terlibat sedikit percakapan dunia maya dengan seorang teman. Dia mengomentari status YM saya: falling leaves. Katanya, dia lebih suka autumn leaves; yang merupakan judul sebuah lagu. Saya bilang, ketika saya menulis status tadi, saya bukan sedang membayangkan sebuah lagu apapun. Hari ini hati saya bagaikan falling leaves, begitu cetus saya asal saja. Sejujurnya, alasan saya tak penting sama sekali. Saya cuma mencintai substansi dan filosofi falling leaves sebagaimana saya begitu kasmaran pada hujan. Sebagai seorang yang (sok) romantis melankolik, menurut saya, daun-daun yang berjatuhan itu identik dengan kepasrahan, keluguan sekaligus kebebasan.
Jadi, sembari terus menunggu laporan masuk dari tim studi di lantai 1, saya asyik saja ber-fallingleaves-ria dan nulis di blog ini. Sampai tak terasa sudah waktunya bedug maghrib, dan saya baru sadar saya tak punya cemilan apapun untuk teman berbuka puasa selain secangkir teh manis. Huaaaaa... starviiing! :(
.:. pesan moral : jangan suka mengkhayal di bulan puasa, apalagi pas menjelang bedug maghrib. Pasti kelaparan.
Pagi tadi saya terlibat sedikit percakapan dunia maya dengan seorang teman. Dia mengomentari status YM saya: falling leaves. Katanya, dia lebih suka autumn leaves; yang merupakan judul sebuah lagu. Saya bilang, ketika saya menulis status tadi, saya bukan sedang membayangkan sebuah lagu apapun. Hari ini hati saya bagaikan falling leaves, begitu cetus saya asal saja. Sejujurnya, alasan saya tak penting sama sekali. Saya cuma mencintai substansi dan filosofi falling leaves sebagaimana saya begitu kasmaran pada hujan. Sebagai seorang yang (sok) romantis melankolik, menurut saya, daun-daun yang berjatuhan itu identik dengan kepasrahan, keluguan sekaligus kebebasan.
Jadi, sembari terus menunggu laporan masuk dari tim studi di lantai 1, saya asyik saja ber-fallingleaves-ria dan nulis di blog ini. Sampai tak terasa sudah waktunya bedug maghrib, dan saya baru sadar saya tak punya cemilan apapun untuk teman berbuka puasa selain secangkir teh manis. Huaaaaa... starviiing! :(
.:. pesan moral : jangan suka mengkhayal di bulan puasa, apalagi pas menjelang bedug maghrib. Pasti kelaparan.
July 10, 2008
little pumpkin-cupcake-sweety pie!
Ini adalah hari ketujuh sejak -my little pumpkin, my cupcake, my sweety pie- Aya berlibur ke Bandung di rumah nenek dan sepupunya. Saya dan suami tidak ikut karena kami harus bekerja, Monday 'til Friday. Work's suck, huh?!
Ada rasa bersalah yang begitu besar coba saya sembunyikan dan tutupi dari diri sendiri ketika menyadari bahwa selama ini waktu saya buat Aya amatlah sedikit. Mungkin karena setiap kali mengingat itu, saya jadi sedih gulana. Betapa egoisnya saya, menganggap Aya cukup bahagia mendapatkan perhatian saya hanya dengan bertemu setiap hari dari pukul 6 atau 7 malam (itu pun kalau saya langsung pulang ke rumah selepas jam kantor) sampai dengan esok pagi pukul 8 pagi. Kalau saya pulang kantor di atas jam 8 malam, bisa dipastikan Aya sudah terbaring dengan nyenyak di tempat tidur dengan wajah cantik dan lucunya. Saya hanya bisa mencium dan memeluk dia, kemudian baru bisa bercanda dengannya jam 6 sampai jam 8 pagi, untuk kemudian saya berangkat ke kantor sementara Aya ke sekolah bermainnya. Saya boleh berbangga hati (sedikit maksa) karena hari Sabtu dan Minggu waktu saya bisa relatif lama bersamanya.
*miss and love u, pumpkin! cepet pulang ya...
Ada rasa bersalah yang begitu besar coba saya sembunyikan dan tutupi dari diri sendiri ketika menyadari bahwa selama ini waktu saya buat Aya amatlah sedikit. Mungkin karena setiap kali mengingat itu, saya jadi sedih gulana. Betapa egoisnya saya, menganggap Aya cukup bahagia mendapatkan perhatian saya hanya dengan bertemu setiap hari dari pukul 6 atau 7 malam (itu pun kalau saya langsung pulang ke rumah selepas jam kantor) sampai dengan esok pagi pukul 8 pagi. Kalau saya pulang kantor di atas jam 8 malam, bisa dipastikan Aya sudah terbaring dengan nyenyak di tempat tidur dengan wajah cantik dan lucunya. Saya hanya bisa mencium dan memeluk dia, kemudian baru bisa bercanda dengannya jam 6 sampai jam 8 pagi, untuk kemudian saya berangkat ke kantor sementara Aya ke sekolah bermainnya. Saya boleh berbangga hati (sedikit maksa) karena hari Sabtu dan Minggu waktu saya bisa relatif lama bersamanya.
But, unfortunately i was wrong. Waktu saya buatnya sama sekali jauh dari cukup. Dan perasaan itu semakin menghantui saya, ketika Aya jauh dan tidak ada di sisi saya. Seperti saat ini. Saya tidak tahu dan mungkin tidak peduli lagi, apakah berusaha memperbaiki suatu hal dengan berpijak pada rasa bersalah adalah hal yang baik atau buruk. Yang jelas, saya berjanji pada hati kecil saya, mulai hari ini saya akan berusaha keras meluangkan banyak waktu berkualitas saya untuknya. Semoga bukan hanya kata.
*miss and love u, pumpkin! cepet pulang ya...
January 21, 2008
Tommy Tjokro
Pertengahan tahun lalu sekitar bulan Juli 2007, entah mendapat inspirasi dari mana saya meminta tolong driver di kantor saya untuk membelikan sepasang kura-kura kecil dan beberapa ekor ikan untuk saya taruh di kolam ikan kantor. Saya rasa niat itu berawal dari rasa miris saya memandangi kelengangan kolam kantor setiap hari di sela-sela jam kerja. Atau mungkin rasa solidaritas saya tergugah karena salah satu teman kantor saya yang baik hati -sebagai volunteer penyumbang ikan sebelumnya- sudah terlanjur patah hati dan pasrah akibat ikan-ikan yang dia beli kok ya 90% mati semua? Hahaha! Kolam ikan pastilah hambar jika tidak ada ikan dan sejenisnya. Nelongso. So, sebagai orang yang tidak pernah memelihara binatang (karena bukan hobi saya), jadilah saya ibu angkat amatiran dari sepasang kura-kura yang mungil dan lucu.
Yang namanya anak, tentu saja harus punya nama dong. Setelah berpikir-pikir selama 2 hari 2 malam tidak jua menemukan nama-nama yang pas, tau-tau wajah si ganteng maskulin nan mempesona pembawa berita Metro TV itu lewat dengan serta merta di layar kaca TV saya pagi harinya. Yes, he is the one and only: Tommy Tjokro. Otak liar “brilian” saya langsung setuju untuk menganugerahkan nama itu buat kura-kura kecil jantanku tercinta. Tinggal si betina belum bernama. Namun ternyata untuk nama si gendhuk ini, saya tidak perlu semedi terlalu lama. Pasangan ganteng adalah cantik. Jadi, yang terpikir di kepala saya, saat kata cantik diucapkan adalah klangenan suami saya dearest Luna Maya. Sebetulnya kalau mau jujur, itu cuma legitimasi nakal akal-akalan saya aja, agar suami tidak terlalu gerah karena saya kesengsem sama wajah rupawan Bung Tommy. Jadilah saya mengakomodir imajinasinya. Yah, semacam toleransi dan tenggang rasa dalam rumah tangga gitu deeh. Hehehe, just kidding, honey!
Ternyata antusiasme penghuni kantor dengan kehadiran Tommy Tjokro & Luna Maya ini lumayan marak juga. Paling tidak setiap jam-jam rehat, -buat saya pribadi- ada yang bisa dikomentari dan dibahas selain gegosip dan tetek-bengek urusan kerjaan yang seringkali bikin kram otak. Kocaknya lagi, si Tommy & Luna ini mungkin karena masih bayi atau setidaknya setara balita lah (walaupun itu hanya asumsi sok tau saya & mba Simanjuntak teman kantor saya saja), tingkahnya malu-malu kuya dan ngga pernah kelihatan berdua-duaan. Well, love takes time. You can’t hurry love. Mungkin saya harus sedikit bersabar untuk memimpikan saat-saat menimang cucu. Sampai pada suatu hari, bagai terkena kilat di siang bolong, tanpa ampun Mr. Volunteer pembeli ikan pertama mengeluarkan pernyataan yang sungguh mencengangkan, sekaligus menggelikan. Katanya santai, “siapa bilang Tommy & Luna malu-malu dan ngga mau berduaan? Coba liat ke kolam diam-diam deh kalo pas lembur sampe malam, pasti tuh mereka lagi tumpukan.” Hihihi… Bagaikan ibu yang kecolongan karena anaknya pacaran back street, pastilah saya langsung menyusun rencana investigasi dan observasi dadakan ala Sherlock Holmes. Walhasil, kebenaran akhirnya terungkap. Terbuktilah sudah, ternyata anak-anak polos dan luguku tidak seperti yang kami duga. They’re grown up. Tentu saja saya sebarkan berita gembira ini, yang langsung disambut gelak tawa riang si mba Simanjuntak & Mr. Volunteer yang sama seperti saya, geli dan kocak abis melihat tingkah konyol Tommy & Luna. Haha…what a great day! So, I was counting the days until I got my turtle grandchildren! Yippii !!
Sayangnya, kenyataan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Saat itu musim hujan, sekitar bulan September 2007. Pagi hari setibanya di kantor, Pak Satpam menyampaikan berita duka. Luna Maya hilang! Katanya, tadi malam hujan sangat lebat sehingga air di kolam meluap. Kejadiannya begitu cepat, membuat Pak Satpam tak sempat menyelamatkan isi kolam itu. Mendadak lemas lah saya. Karena tidak puas, saya tetap memaksa pasukan office boy untuk mencari Luna di semua sudut dan lubang-lubang di sekitar kolam. Tetap tak ada. Saya hanya bisa terdiam di pinggir kolam sambil memandangi Tommy Tjokro yang kini sendirian dan takut-takut menampakkan kepalanya di atas air. Saya sedih dan kehilangan. Tapi saya betul-betul tidak menyangka efek kehilangan itu bisa sedemikian kuatnya, sehingga kalau bukan karena tertahan malu, saya pasti sudah menangis. Hanya Stevania sobat dekat saya yang peka, ragu-ragu bertanya, “Kenapa lo, kok sedih banget?” Saya jawab, “Luna Maya hilang, gara-gara air kolam meluap.” Lanjut dia, “Lo beneran sedih banget yaa?” Saat itu saya cuma mengangguk dan tersenyum pahit seraya berharap mudah-mudahan tak ada yang tahu mata saya sudah sedari tadi berkaca-kaca. Ironis sekali, saya bukan seorang pecinta binatang tulen, tapi saya bisa juga sedih dan nelangsa hanya gara-gara seekor kura-kura. Dan rasa kehilangan itu semakin lengkap sudah, ketika beberapa minggu kemudian Tommy pun raib, entah kemana. Saya jadi tidak punya minat lagi untuk membeli kura-kura lain pengganti Tommy & Luna. However, kolam itu pun kembali lengang. Hanya ikan-ikan yang tersisa dan setia berseliweran dari hari ke hari. Sampai akhirnya, kantor kami pun pindah ke Menteng. Selamat tinggal kolam kecil beserta kenangannya!
Kantor baru - Januari 2008. Beberapa hari yang lalu, tanpa sengaja nama Tommy Tjokro kembali melintas dalam topik iseng obrolan dan khayalan saya, Stevania dan Mba Simanjuntak di kantor. Betapa gantengnya dia, imajinasi gokil seandainya dia datang ke kantor kita, bla bla bla. Pokoknya ga mutu banget deh! Lalu sorenya masih di kantor juga, dengan tanpa dosa, Ibu Ayu –teman kantor saya yang pinter tapi kadang gokil dan polos juga— dengan antusias nyeletuk, “Eh, mba…kura-kuramu dulu kan namanya Tommy Tjokro tho? Ternyata mba, aku liat di TV tuh ya, ada loh artis apa pemain sinetron gitu, guanteng-e… namanya Tommy Tjokro juga. Lah kok bisa sama ya namanya? Aku sampe bilang sama suamiku, "loh Pak, Tommy Tjokro itu kan nama kura-kuranya mba Ninol di kantor dulu.. Kok isoooo yo jenenge podho?”
??????????????????? ??????????????????????????????
Bwahahahahahahaha!!!! Duh, Tommy Tjokro…big hug for Bu Ayu : u were so funny, sampe saya gemes pengen peluk dikau keras-keras saat itu :)
Yang namanya anak, tentu saja harus punya nama dong. Setelah berpikir-pikir selama 2 hari 2 malam tidak jua menemukan nama-nama yang pas, tau-tau wajah si ganteng maskulin nan mempesona pembawa berita Metro TV itu lewat dengan serta merta di layar kaca TV saya pagi harinya. Yes, he is the one and only: Tommy Tjokro. Otak liar “brilian” saya langsung setuju untuk menganugerahkan nama itu buat kura-kura kecil jantanku tercinta. Tinggal si betina belum bernama. Namun ternyata untuk nama si gendhuk ini, saya tidak perlu semedi terlalu lama. Pasangan ganteng adalah cantik. Jadi, yang terpikir di kepala saya, saat kata cantik diucapkan adalah klangenan suami saya dearest Luna Maya. Sebetulnya kalau mau jujur, itu cuma legitimasi nakal akal-akalan saya aja, agar suami tidak terlalu gerah karena saya kesengsem sama wajah rupawan Bung Tommy. Jadilah saya mengakomodir imajinasinya. Yah, semacam toleransi dan tenggang rasa dalam rumah tangga gitu deeh. Hehehe, just kidding, honey!
Ternyata antusiasme penghuni kantor dengan kehadiran Tommy Tjokro & Luna Maya ini lumayan marak juga. Paling tidak setiap jam-jam rehat, -buat saya pribadi- ada yang bisa dikomentari dan dibahas selain gegosip dan tetek-bengek urusan kerjaan yang seringkali bikin kram otak. Kocaknya lagi, si Tommy & Luna ini mungkin karena masih bayi atau setidaknya setara balita lah (walaupun itu hanya asumsi sok tau saya & mba Simanjuntak teman kantor saya saja), tingkahnya malu-malu kuya dan ngga pernah kelihatan berdua-duaan. Well, love takes time. You can’t hurry love. Mungkin saya harus sedikit bersabar untuk memimpikan saat-saat menimang cucu. Sampai pada suatu hari, bagai terkena kilat di siang bolong, tanpa ampun Mr. Volunteer pembeli ikan pertama mengeluarkan pernyataan yang sungguh mencengangkan, sekaligus menggelikan. Katanya santai, “siapa bilang Tommy & Luna malu-malu dan ngga mau berduaan? Coba liat ke kolam diam-diam deh kalo pas lembur sampe malam, pasti tuh mereka lagi tumpukan.” Hihihi… Bagaikan ibu yang kecolongan karena anaknya pacaran back street, pastilah saya langsung menyusun rencana investigasi dan observasi dadakan ala Sherlock Holmes. Walhasil, kebenaran akhirnya terungkap. Terbuktilah sudah, ternyata anak-anak polos dan luguku tidak seperti yang kami duga. They’re grown up. Tentu saja saya sebarkan berita gembira ini, yang langsung disambut gelak tawa riang si mba Simanjuntak & Mr. Volunteer yang sama seperti saya, geli dan kocak abis melihat tingkah konyol Tommy & Luna. Haha…what a great day! So, I was counting the days until I got my turtle grandchildren! Yippii !!
Sayangnya, kenyataan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Saat itu musim hujan, sekitar bulan September 2007. Pagi hari setibanya di kantor, Pak Satpam menyampaikan berita duka. Luna Maya hilang! Katanya, tadi malam hujan sangat lebat sehingga air di kolam meluap. Kejadiannya begitu cepat, membuat Pak Satpam tak sempat menyelamatkan isi kolam itu. Mendadak lemas lah saya. Karena tidak puas, saya tetap memaksa pasukan office boy untuk mencari Luna di semua sudut dan lubang-lubang di sekitar kolam. Tetap tak ada. Saya hanya bisa terdiam di pinggir kolam sambil memandangi Tommy Tjokro yang kini sendirian dan takut-takut menampakkan kepalanya di atas air. Saya sedih dan kehilangan. Tapi saya betul-betul tidak menyangka efek kehilangan itu bisa sedemikian kuatnya, sehingga kalau bukan karena tertahan malu, saya pasti sudah menangis. Hanya Stevania sobat dekat saya yang peka, ragu-ragu bertanya, “Kenapa lo, kok sedih banget?” Saya jawab, “Luna Maya hilang, gara-gara air kolam meluap.” Lanjut dia, “Lo beneran sedih banget yaa?” Saat itu saya cuma mengangguk dan tersenyum pahit seraya berharap mudah-mudahan tak ada yang tahu mata saya sudah sedari tadi berkaca-kaca. Ironis sekali, saya bukan seorang pecinta binatang tulen, tapi saya bisa juga sedih dan nelangsa hanya gara-gara seekor kura-kura. Dan rasa kehilangan itu semakin lengkap sudah, ketika beberapa minggu kemudian Tommy pun raib, entah kemana. Saya jadi tidak punya minat lagi untuk membeli kura-kura lain pengganti Tommy & Luna. However, kolam itu pun kembali lengang. Hanya ikan-ikan yang tersisa dan setia berseliweran dari hari ke hari. Sampai akhirnya, kantor kami pun pindah ke Menteng. Selamat tinggal kolam kecil beserta kenangannya!
Kantor baru - Januari 2008. Beberapa hari yang lalu, tanpa sengaja nama Tommy Tjokro kembali melintas dalam topik iseng obrolan dan khayalan saya, Stevania dan Mba Simanjuntak di kantor. Betapa gantengnya dia, imajinasi gokil seandainya dia datang ke kantor kita, bla bla bla. Pokoknya ga mutu banget deh! Lalu sorenya masih di kantor juga, dengan tanpa dosa, Ibu Ayu –teman kantor saya yang pinter tapi kadang gokil dan polos juga— dengan antusias nyeletuk, “Eh, mba…kura-kuramu dulu kan namanya Tommy Tjokro tho? Ternyata mba, aku liat di TV tuh ya, ada loh artis apa pemain sinetron gitu, guanteng-e… namanya Tommy Tjokro juga. Lah kok bisa sama ya namanya? Aku sampe bilang sama suamiku, "loh Pak, Tommy Tjokro itu kan nama kura-kuranya mba Ninol di kantor dulu.. Kok isoooo yo jenenge podho?”
??????????????????? ??????????????????????????????
Bwahahahahahahaha!!!! Duh, Tommy Tjokro…big hug for Bu Ayu : u were so funny, sampe saya gemes pengen peluk dikau keras-keras saat itu :)
Subscribe to:
Posts (Atom)